Profil DIS SAINS

Dis Sains adalah Lembaga bimbingan yang berbasis kreatif yang baru di Jogja.DIS SAINS yang kemudian disingkat DSS memfokuskan bidang bimbingannya untuk ikut serta membantu menyukseskan Ujian Sekolah dan Nasional serta masuk Perguruan Tinggi favorit di Indonesia.

Biaya Bimbingan

Biaya Bimbingan di DIS SAINS sangatlah murah dan mudah terjangkau oleh peserta didik. Namun syarat diadakan bimbingan yakni jika terdiri minimal 3 peserta dan maksimal 5 peserta agar dapat mencapai pendidikan yang optimal.

Lowongan Kerja

Untuk meningkatkan SDM (Qualitas dan Quantitas) pengajar di DIS SAINS membuka peluang sebesar-besarnya untuk para siswa dan mahasiswa untuk menjadi pengajar di Lembaga ini.

Peluang Investasi

Dalam pengembangan selanjutnya, pihak DIS SAINS membuka peluang sebesar-besarnya untuk para donatur yang mempunyai keinginan untuk ikut serta menyukseskan pendidikan yang murah namun berkualitas ini.

Peluang Kerjasama

Dalam upaya meningkatkan kualitas kerja dan administrasi Lembaga Bimbingan Belajar DIS SAINS, kami membuka peluang sebesar-besar bagi pihak yang ingin menjalin kerjasama dengan kami, baik berjangka maupun tidak.

Tampilkan postingan dengan label Metode Riset. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Riset. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Januari 2011

BAB V PENUTUP

BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Ada pengaruh positif antara variabel produk, pelayanan, dan lokasi terhadap keputusan pembelian konsumen pada pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan di peroleh Fhitung 79,053 pada taraf signifikansi 5 % (Ftabel = 3,0864). Dengan demikian Fhitung > Ftabel sehingga dapat disimpulkan bahwa Hipotesis Kerja (Ha) diterima. Sedangkan sumbangan yang diberikan variabel yang diteliti sebesar 70,1 % dan sisanya 29,9 % dipengaruhi oleh variabel lain selain produk, pelayanan, dan lokasi.
2. Berdasarkan hasil analisis parsial dapat disimpulkan bahwa variabel produk sebesar 7,73 %, variabel pelayanan sebesar 27,77 %, dan variabel lokasi sebesar 25,40 %. Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel pelayanan mempunyai sumbangan parsial terbesar dibandingkan dengan variabel yang lain.

5.2 Saran-saran
1. Mengenai produk yang dijual, hendaknya tetap memperhatikan kelengkapan produk, kualitas produk, dan jaminan sehingga konsumen tetap memilih pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara dalam keputusan pembeliannya
2. Mengenai pelayanan, hendaknya lebih diperhatikan karena variabel pelayanan yang mempunyai pengaruh terbesar dalam keputusan pembelian. Hendaknya mutu pelayanan lebih ditingkatkan dengan cara mengutamakan unsur kecepatan, ketepatan, keamanan, keramahan, dan kenyamanan sehingga konsumen merasa puas dan merasa dihargai.
3. Mengenai lokasi, hendaknya disediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung kelancaran konsumen dalam berbelanja seperti ATM, Wartel dan sebagainya.


DAFTAR PUSTAKA
 Bahktiar. 2005. “Analisis fenomena yang terjadi pad kualitas swalayan (studi kasus Swalayan di Lhoksumawe)”. Jurnal Sistem Teknik Industri. Vol.7, No.1. Universitas Malikusalleh Lhoksumawe.
 Kaihatu, Stefanus ,Thomas. 2008. “Analisa Kesenjangan Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Konsumen Pengunjung Plaza Tunjungan Surabaya”. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol.10, No.1, Universitas Kristen Petra Fakultas Ekonomi. Surabaya.
 Mujiroh. 2005. “Pengaruh Produk, Pelayanan, Dan Lokasi Terhadap Keputusa Pembelian Konsumen Pada Pasar Swalayan Indo Rizky Purbalingga”. Junal Ilmu Sosial Ekonomi. Semarang.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAAN

4.1 Karakteristik Responden Sampel Penelitian
Responden sampel penelitian sebanyak 105 konsumen dari populasi yang tidak terbatas. Dari pengumpulan data yang dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober sampai dengan 20 Oktober 2010 dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1. Responden berdasarkan tingkat pendidikan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh data tentang pendidikan responden pasar swalayan Alfamidi bintara Jaya. Data tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1 sebagai berikut


Tabel 4.1 menunjukkan bahwa konsumen pasar Alfamidi Cabang Bintara Jaya, paling sedikit berpendidikan SD sebesar 6 responden (5.71%), sedangkan pendidikan paling banyak responden pasar swalayan Alfamidi adalah berpendidikan SMA sebesar 36 Responden (34.29%).

2. Responden berdasarkan pekerjaan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh data tentangpekerjaan responden yang dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut:

Tabel 4.2 menunjukkan konsumen pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara Jaya, responden memiliki pekerjaan paling banyak adalah Ibu rumah tangga sebanyak 48 responden (45.71%), sedangkan jenis pekerjaan responden yang paling sedikit adalah wiraswasta sebesar 5 responden (4.77%).
3. Responden berdasarkan usia
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh data tentang usia responden yang dapat dilihat pada tabel 4.3 sebagai berikut:

Tabel 4.3 menunjukkan konsumen pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara Jaya, responden paling banyak beusia 26 – < 35 tahun sebanyak 49 responden (46.67%) dan responden paling sedikit berusia lebih dari 55 tahun sebanyak 4 responden (3.80%).

4. Responden berdasarkan jenis kelamin
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh data tentang jenis kelamin responden yang dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai berikut:

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa konsumen pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara Jaya, responden berjenis kelamin laki-laki sebesar 22 responden (20.96%), dan 83 responden (79.04%) adalah berjenis kelamin perempuan.

4.1.2 Analisis Deskriptif Persentase
Sesuai dengan tujuan analisis deskriptif yaitu untuk memberikan gambaran mengenai hasil penelitian secara umum, bagaimana karakteristik subyek penelitian sehubungan dengan variabel-variabel yang diteliti. Sebelum dilakukan analisis statistik terlebih dahulu dilakukan pembobotan terhadap skor masingmasing variabel. Pembobotan ini dilakukan dengan memberikan skor total dengan jumlah item dari variabel yang dibobot.
Hasil tanggapan dari 105 responden terhadap item-item kuesioner yang terbagi menjadi 5 item variabel produk, 6 item variabel pelayanan, 4 item variabel lokasi, dan 5 item variabel keputusan pembelian. Hasil analisis deskriptif persentase variabel-variabel penelitian setelah dilakukan pembobotan, terangkum dam tabel berikut ini:

Jika dihitung dengan skor 0,721 x 2625 = 1892. dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa produk yang ditawarkan di pasar Alfamidi termasuk kategori tinggi

Jika dihitung dengan skor 0,368 x 3150 = 1159. Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelayanan yang diberikan di pasar swalayan Alfamidi termasuk kategori rendah.

Jika dihitung dengan skor 0,589 x 2100 = 1236. Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa lokasi di pasar swalayan Alfamidi termasuk kategori sedang.

Jika dihitung dengan skor 0,705 x 2625 = 1850. Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian di pasar swalayan Alfamidi termasuk kategori tinggi.

4.1.3 Analisis Regresi Produk, Pelayanan, dan Lokasi tarhadap Keputusan Pembelian
Dalam melakukan analisis terhadap hubungan dan pengaruh produk, pelayanan, dan lokasi terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk di pasar swalayan Alfamidi Bintara digunakan analisis regresi berganda. Bentuk model yang digunakan adalah sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3
Keterangan:
Y = Keputusan konsumen dalam membeli produk
X1 = Produk
X2 = Pelayanan
X3 = Lokasi
a = Konstanta
b1, b2, b3 = koefisien regresi masing-masing variabel

Hasil dari analisis regresi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara produk, pelayanan, dan lokasi terhadap keputusan pembelian dapat dilihat pada tabel ini, namun jika diringkas dapat dilihat dari tabel 4.9 berikut ini:

Y = 4,66 + 0,204 X1 + 0,4655 X2 + 0,352 X3
Koefisien regresi tersebut bertanda positif (+), artinya kenaikan variabel independent akan diikuti oleh kenaikan variabel dependent. Dari persamaan regresi di atas dapat diartikan sebagai berikut:
- konstanta (a) = 4,66, artinya bahwa jika tidak ada produk, pelayanan, dan lokasi maka keputusan konsumen dalam melakukan pembelian adalah sebesar 4,66.
- Koefisien regresi (b1) = 0,204, artinya jika produk yang diberikan pramuniaga pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara skornya naik 1 satuan sementara faktor pelayanan dan lokasi tetap maka keputusan konsumen dalam membeli produk (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 0,204
- Koefisien regresi (b2) = 0,4655, artinya jika pelayanan yang diberikan pramuniaga pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara skornya naik 1 satuan sementara faktor produk dan lokasi tetap maka keputusan konsumen dalam membeli produk (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 0,4655.
- Koefisien regresi (b3) = 0,352, artinya jika lokasi yang diberikan pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara skornya naik 1 satuan sementara factor produk dan pelayanan tetap maka keputusan konsumen dalam membeli produk (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 0,352.

a. Uji F atau Simultan
Uji ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh semua variabel independen yang terdapat di dalam model secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen. Berdasarkan hasil perhitungan regresi linier berganda dengan program SPSS seperti hasil yang diperoleh dari persaman regresi sebagai berikut:
Y = 4,66 + 0,204 X1 + 0,4655 X2 + 0,352 X3
Untuk membuktikan kebenaran hipotesis digunakan uji F yaitu untuk mengetahui sejauh mana variabel produk, pelayanan, dan lokasi mampu menjelaskan atau berpengaruh terhadap variabel keputusan pembelian konsumen. Cara yang digunakan adalah dengan membandingkan nilai Ftabel dengan Fhitung, apabila nilai Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel bebas dari model jika Fhitung < Ftabel maka Ho diterima, dengan demikian dapat dikatakan bahwa variabel bebas dari model regresi linier berganda tidak mampu menjelaskan variabel terikatnya. Berdasarkan hasil analisis regresi SPSS pada lampiran diketahui Fhitung sebesar 79,053 dan Ftabel = 3,0864 dari hasil perhitungan tersebut tampak bahwa Fhitung > Ftabel, yaitu 79,053 > 3,0864. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya secara simultan produk, pelayanan, dan lokasi berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk. Sehingga hipotesis yang berbunyi produk, pelayanan, dan lokasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk di pasar swalayan Alfamidi diterima. Dalam analisis regresi linier berganda ini dianalisis pula besarnya koefisien determinasi (R2) secara keseluruhan. Jika R2 yang diperoleh mendekati 1 (satu) maka dapat dikatakan semakin kuat model tersebut dalam menerangkan variasi variabel bebas terhadap variabel terikat. Sebaliknya, jika R2 mendekati 0 (nol) maka semakin lemah model tersebut dalam menerangkan variasi variabel bebas terhadap variabel terikat. Berdasarkan hasil perhitungan koefisien determinasi (R2) diperoleh hasil sebesar 0,701. Hal ini berarti bahwa persentase pengaruh produk, pelayanan, dan lokasi terhadap keputusan pembelian konsumen sebesar 70,1 %. Sedangkan sisanya sebesar 29,9% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti

b. Uji t atau Parsial
Uji t yang digunakan adalah secara individu (parsial) yaitu suatu pengujian terhadap pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil pengujian koefisien regresi produk, pelayanan, dan lokasi terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk adalah sebagai berikut:
- Nilai thitung untuk koefisien regresi dapat diketahui dari hasil perhitungan komputer. Besarnya masing-masing nilai thitung dari masing-masing regresi dapat dilihat pada Tabel4.9.
- Nilai kritis atau ttabel pada taraf signifikansi 5 % adalah 1,983. sedangkan thitung produk thitung X1 = 2,911 dan thitung pelayanan thitung X2 = 6,231 dan thitung lokasi thitung X3 = 5,864. Dan hasil tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa nilai thitung koefisien regresi dari produk, pelayanan, dan lokasi lebih besar dari ttabel, sehingga produk, pelayanan, dan lokasi mempunyai hubungan yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Selain melakukan pembuktian dengan uji F, uji R2, dan uji t, maka perlu juga mencari besarnya koefisien determinasi (r2) parsialnya untuk masing-masing variabel bebas. Berdasarkan hasil perhitungan ternyata faktor yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pembelian konsumen adalah faktor pelayanan yaitu sebesar 0,2777 (27,77 %) yang diperolehnya dari koefisien korelasi parsial untuk strategi pelayanan dikuadratkan. Koefisien determinasi parsial untuk lokasi sebesar 0,2540 (25,40 %) yang diperolehnya dari koefisien korelasi parsial untuk strategi lokasi dikuadratkan. Sedangkan koefisien determinasi (r2) parsialnya untuk variabel strategi produk sebesar 0,0773 (7,73 %) yang diperoleh dari koefisien parsial untuk variabel strategi produk yang dikuadratkan. Hal ini berarti bahwa sumbangan parsial dari variabel produk terhadap keputusan pembelian konsumen sebesar 7,73 %, sumbangan parsial dari variabel pelayanan terhadap keputusan pembelian konsumen sebesar 27,77 %, dan sumbangan parsial dari variabel lokasi terhadap keputusan pembelian konsumen sebesar 25,40 %.

4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji pengaruh produk (X1), pelayanan (X2), dan lokasi (X3) terhadap keputusan konsumen (Y) secara simultan menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara. Bentuk persamaan yang menggambarkan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dalam penelitian ini adalah Y = 4,66 + 0,204 X1 + 0,4655 X2 + 0,352 X3. Berdasarkan persamaan regresi berganda yang diperoleh di mana koefisien regresi b1, b2, b3, bertanda positif maka menunjukkan bahwa bentuk pengaruhnya adalah positif, yang artinya jika variabel produk, pelayanan, dan lokasi ditingkatkan secara bersama-sama sebesar satu unit, maka keputusan pembelia akan meningkat sebesar 0,204 + 0,4655 + 0,352 pada konstanta 4,66 dan sebaliknya jika variabel produk, pelayanan, dan lokasi menurun secara bersama-sama sebesar satu unit, maka keputusan pembelian akan menurun sebesar 0,204 + 0,4655 + 0,352 pada konstanta 4,66.

4.2.1 Variabel produk(X1) terhadap keputusan pembeli (Y)
Berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh koefisien regresi untuk variabel X1 yaitu b1 sebesar 0,204. Dari keberartian koefisien regresi dengan uji t, diperoleh thitung = 2,911 > ttabel = 1,983. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa variabel produk (X1) memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian (Y). jika dilihat dari determinasi parsialnya, variabel produk (X1) memberikan sumbangan terhadap keputusan pembelian sebesar 7,73 %. Dengan demikian koefisien regresi sebesar 0,204 dan koefisien determinasi parsial sebesar 7,73 % menunjukkan bahwa untuk variabel produk (X1) jika terjadi perubahan sebesar 1 satuan, maka akan menyebabkan perubahan pada keputusan pembelian (Y) sebesar 0,204 satuan atau 7,73 % dengan asumsi variabel pelayanan (X2) dan lokasi (X3) tetap. Variabel produk memiliki pengaruh paling kecil dibandingkan dengan variabel pelayanan dan lokasi. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa produk yang ditawarkan di pasar swalayan Alfamidi termasuk dalam kategori tinggi yaitu 72,1 %. Nilai koefisien regresi variabel produk (X1) bertanda positif ini memberikan indikasi bahwa variabel produk memberikan pengaruh positif terhadap keputusan membeli produk di pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara.

4.2.2 Variabel pelayanan(X2) terhadap keputusan pembeli (Y)
Berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh koefisien regresi untuk variabel X2 yaitu b2 sebesar 0,4655. Dari keberartian koefisien regresi dengan uji t, diperoleh thitung = 6,231 > ttabel = 1,983. dengan demikian dapat dijelaskan bahwa variabel pelayanan (X2) memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian (Y). jika dilihat dari determinasi parsialnya, variabel pelayanan (X2) memberikan sumbangan terhadap keputusan pembelian sebesar 27,77 %. Dengan demikian koefisien regresi sebesar 0,4655 dan koefisien determinasi parsial sebesar 27,77 % menunjukkan bahwa untuk variabel pelayanan (X2) jika terjadi perubahan sebesar 1 satuan, maka akan menyebabkan perubahan pada keputusan pembelian (Y) sebesar 0,4655 satuan atau 27,77 % dengan asumsi variabel produk (X1) dan lokasi (X3) tetap. Variabel pelayanan memiliki pengaruh paling besar terhadap keputusankonsumen dalam pembelian dibandingkan variabel produk dan lokasi. Sedangkan berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan oleh pasar swalayan Alfamidi termasuk kategori rendah. Nilai koefisien regresi variabel pelayanan (X2) bertanda positif ini memberikan indikasi bahwa variabel pelayanan memberikan pengaruh positif terhadap keputusan membeli produk di pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara.

4.2.3 Variabel lokasi (X3) terhadap keputusan pembeli (Y)
Berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh koefisien regresi untuk variabel X3 yaitu b3 sebesar 0,352. Dari keberartian koefisien regresi dengan uji t, diperoleh thitung = 5,864 > ttabel = 1,983. dengan demikian dapat dijelaskan bahwa variabel lokasi (X3) memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian (Y). jika dilihat dari determinasi parsialnya, variabel lokasi (X3) memberikan sumbangan terhadap keputusan pembelian sebesar 25,40 %. Dengan demikian koefisien regresi sebesar 0,352 dan koefisien determinasi parsial sebesar 25,40 % menunjukkan bahwa untuk variabel lokasi (X3) jika terjadi perubahan sebesar 1 satuan, maka akan menyebabkan perubahan pada keputusan pembelian (Y) sebesar 0,352 satuan atau 25,40 % dengan asumsi variabel produk (X1) dan pelayanan (X2) tetap. Pemilihan lokasi merupakan salah satu pertimbangan konsumen dalam melakukan keputusan pembelian. Berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa lokasi swalayan termasuk kategori sedang yaitu 58,9 %. Nilai koefisien regresi variabel lokasi (X3) bertanda positif ini memberikan indikasi bahwa variabel lokasi memberikan pengaruh positif terhadap keputusan membeli produk di pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara.

4.2.4 Pengaruh Produk, Pelayanan, dan Lokasi terhadap Keputusan pembelian
Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa ada pengaruh yang signifikan antara produk, pelayanan, dan lokasi terhadap keputusan pembelian produk di pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara. Besarnya pengaruh dari ketiga variabel bebas X1, X2, dan X3 terhadap keputusan pembelian (Y) adalah 0,701 atau 70,1 %. Hal ini menunjukkan bahwa produk, pelayanan, dan lokasi memberikan andil yang cukup besar terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk di pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara. Sedangkan sisanya 29,9 % dipengaruhi oleh faktor lain di luar model yang tidak dikaji dalam penelitian ini. Dari ketiga faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian di pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara, ternyata pelayanan memberikan pengaruh yang paling besar yaitu sebesar 27,77 %. Hal ini disebabkan karena sebagian besar konsumen menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan pasar swalayan perlu diperhatikan. Pada umumnya para pramuniaga kurang memperhatikan masalah pelayanan bagi konsumen yang mengunjungi pasar swalayan. Terbukti dari cara mereka melayani konsumen. Dengan demikian konsumen akan merasa kurang puas sehingga akan menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap keputusan pembelian konsumen. Variabel produk memberikan pengaruh sebesar 7,73 %. Hal ini disebabkan karena produk merupakan prioritas yang harus diperhatikan agar kepuasan konsumen dapat terbentuk sehingga akan berpengaruh pada pembeliannya. Ini bisa dilihat bahwa pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara sangat memperhatikan kualitas dan kelengkapan sehingga banyak konsumen yang merasa puas. Hal inilah yang menyebabkan variabel produk sedikit pengaruhnya terhadap keputusan pembelian konsumen. Buktinya 47,6 % responden mengatakan kualitas produk baik dan 49,5 % menyatakan produk yang ditawarkan oleh pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara. Variabel lokasi memberikan pengaruh sebesar 25,40 %. Hal ini disebabkan karena lokasinya cukup strategis sehingga konsumen dapat dengan mudah untuk menjangkaunya. Variabel produk, pelayanan, dan lokasi masing-masing memberikan pengaruh produk sebesar 7,73 %, pelayanan 27,77 %, dan lokasi 25,40 % sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Kemungkinan variabel lain yang mempengaruhi keputusan pembelian adalah promosi, manajemen, dan sebagainya. Jadi, dengan demikian variabel produk memberikan pengaruh paling kecil terhadap keputusan pembelian konsumen karena produk yang ditawarkan oleh pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara dengan pasar swalayan lain cenderung homogen. Di sisi lain, variabel pelayanan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap keputusan pembelian konsumen karena pelayanan yang diberikan pasar swalayan bersifat dinamis dan relatif sehingga perlu diperhatikan.

Selasa, 23 November 2010

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian adalah suatu cara atau langkah yang tepat yang harus ditempuh dalam suatu kegiatan penelitian ilmiah guna mencapai sasaran yang diinginkan. Agar penelitian memperoleh hasil yang sesuai dengan yang diharapkan maka perlu menetapkan langkah-langkah tertentu yang dituangkan dalam metodologi penelitian yaitu meliputi :

3.1 Metode Pengumpulan Data
Penentuan metode pengumpulan data yang tepat sangat menentukan kebenaran ilmiah suatu penelitian. Selain itu penentuan metode pengumpulan data yang sesuai dengan masalah yang diteliti akan membantu memperlancar tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah :
a) Metode Angket
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Dalam penelitian ini angket yang tersedia nantinya diberikan kepada konsumen pasar swalayan Alfamidi BIntara. Mereka diminta untuk 40 mengisi daftar pertanyaan tentang produk, pelayanan, lokasi, dan keputusan pembelian konsumen. Angket yang digunakan adalah angket tertutup, di mana responden tidak diberi kesempatan untuk menjawab dengan menggunakan kata-kata sendiri. Responden tinggal memilih jawaban yang disediakan Untuk setiap pertanyaan terdiri dari lima alternatif jawaban dengan skor sebagai berikut: jawaban A diberi skor 5, jawaban B diberi skor 4, jawaban C diberi skor 3, jawaban D diberi skor 2, dan
jawaban E diberi skor 1. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan data dengan menggunakan angket adalah sebagai berikut: (1) Membuat pertanyaan terbuka untuk mengungkap profil konsumen yang terdiri dari pendidikan, usia, jenis kelamin pekerjaan; (2) membuat soal tes sebanyak 20 soal yang terdiri dari variabel produk 5 soal, variabel pelayanan 6 soal, dan variabel lokasi 4 soal, dan variabel keputusan pembelian 5 soal; (3) setiap item mempunyai lima alternatif jawaban yaitu A, B, C, D, dan E.
b) Wawancara
Adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi (Suharsimi Arikunto,2002:145). Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan metode wawancara yaitu mengadakan Tanya jawab secara langsung kepada manajer pasar swalayan Alfamidi Bintara untuk memperoleh data mengenai gambaran perusahaan secara umum. Metode ini digunakan sebagai pendukung/pelengkap metode kuesioner untuk mendapatkanjawaban tentang hal-hal yang belum jelas kaitannya dengan penelitian ini.

3.2 Variabel Penelitian
Dalam suatu penelitian terdapat beberapa variabel yang harus ditetapkan dengan jelas sebelum mulai pengumpulan data. Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Suharsimi Arikunto,2002:94). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel penelitian adalah sebagai berikut :

Keputusan Konsumen (Y)
Keputusan pembelian konsumen merupakan suatu perilaku pembelian seseorang dalam menentukan suatu pilihan produk untuk mencapai kepuasan sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen. Indikator variabel keputusan pembelian konsumen meliputi pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan membeli, dan perilaku setelah pembelian.

Produk (X1)
Produk merupakan barang yang dapat ditawarkan oleh swalayan kepada konsumen dan calon konsumen. Indikator dari variabel ini adalah kualitas produk, harga, kelengkapan produk, dan jaminan purna jual.

Pelayanan (X2)
Pelayanan adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang tingkat pemuasannya hanya dapat dirasakan oleh orang yang melayani maupun yang dilayani. Indikator variabel pelayanan ini adalah kecepatan dalam memberikan pelayanan, ketepatan dalam memberikan pelayanan, keamanan dalam memberikan pelayanan, keramahan dalam memberikan pelayanan, dan kenyamanan dalam memberikan pelayanan.

Lokasi (X3)
Lokasi merupakan letak yang strategis dari jangkauan konsumennya yang mempunyai indikator transportasi, lokasi penjualan, dan jarak antara lokasi dengan rumah.

3.3 Sampel dan Teknik Sampling
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto,2002:109). Menurut Sudjana (1996:6), sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi. Dari pendapat lain disebutkan bahwa sampel penelitian adalah bagian dari populasi atau sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi (Sutrisno Hadi,1994:221). Usman dan Setiady (2000:44), mendefinisikan sampel penelitian adalah sebagian anggota populasi yang diambil dengan menggunakan teknik-teknik tertentu. Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental. Teknik ini merupakan teknik pengambilan sampel yang diperoleh dari siapa saja yang kebetulan ada (Sutrisno Hadi,1994:227). Dengan demikian berarti sampel yang diambil merupakan konsumen yang kebetulan berkunjung dan membeli di pasar swalayan Alfamidi Mengenai ukuran sampel menurut Sitepu (1994:108-109) dapat ditempuh melalui tiga tahap perhitungan yaitu menentukan perkiraan harga koefisien korelasi (ρ) terkecil antara variabel bebas dengan variabel terikat, menentukan taraf nyata (α) dan kuasa uji (1 - β), dan menentukan ukuran sampel secara iteratif.
Iterasi pertama:

Dimana Z1-α + Z1-β merupakan konstanta yang diperoleh dari distribusi normal.

Interasi kedua menggunakan rumus:

Keterangan :
Z1-α : Konstanta yang diperoleh dari tabel distribusi normal
Z1-β : Konstanta yang diperoleh dari tabel distribusi normal

Sedangkan,

Apabila ukuran sampel minimal iteratif pertama dan kedua harganya sama dengan bilangan satunya maka iterasi berhenti. Apabila belum sama perlu dilakukan iterasi ketiga dengan menggunakan rumus seperti pada iterasi kedua. Mengenai koefisien korelasi terkecil variabel-variabel bebas dari penelitian yang menganalisis tiga variabel bebas dari keputusan pembelian konsumen diperoleh harga 0,32. Dengan dasar pertimbangan tersebut dalam penelitian ini diperkirakan korelasi terkecil dari variabel adalah 0,32 dan taraf nyata yang diinginkan sebesar 5%. Dengan demikian diperoleh harga:
ρ = 0,32
Z1−α = 1,645 dan Z1−β = 1,645
1. Menghitung U’ρ =

2. Menghitung U’ρ =

Karena n1 dan n2 telah mencapai harga yang sama yaitu 98 maka ukuran sampel minimal sebesar 98 pengunjung. Ukuran sampel dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 105 responden

3.4 Model Penelitian
Metode analisis data adalah suatu metode yang digunakan untuk mengelolah hasil penelitian guna memperoleh suatu kesimpulan. Dalam penelitian ini metode analisa data yang digunakan adalah
3.4.1 Analisis Deskriptif Persentase
Tujuan analisis deskriptif prosentase yaitu untuk memberikan gambaran mengenai hasil penelitian secara umum. Sebelum dilakukan analisis terlebih dulu dilakukan pembobotan terhadap skor masing-masing variabel. Pembobotan ini dilakukan dengan memberikan skor total dengan jumlah item dari masing-masing variabel yang dibobot. Dengan demikian dapat diketahui persentase antara produk, pelayanan, lokasi, dan keputusan untuk membeli. Untuk mengukur variabel produk, pelayanan, lokasi, dan keputusan untuk membeli dilakukan dengan memberi skor dari jawaban angket yang diisi oleh responden dengan ketentuan sebagai berikut: A diberi skor 5, B diberi skor 4, C diberi skor 3, D diberi skor 2, dan E skor 1. Langkah-langkah yang ditempuh dalam penggunaan analisis data ini adalah
sebagai berikut:
1) Membuat tabel distribusi angket
2) Menentukan skor tanggapan responden dengan ketentuan skor yang telah ditetapkan
3) Menjumlah skor tanggapan yang diperolehdari tiap-tiap responden.
4) Memasukkan skor tersebut ke dalam rumus sebagai berikut:

Keterangan:
n = nilai yang diperoleh
N = jumlah seluruh nilai
(Mohammad Ali,1984:188)
5) Hasil yang diperoleh dikonsultasikan dengan tabel kategori
Untuk menentukan kategori atau tingkat DP yang diperoleh dibuat tabelkategori yang disusun melalui perhitungan sebagai berikut:

6) Membuat tabel interval kelas dan kategorinya
Interval kelas dan Kategorinya
Interval Kategori
84 % < % ≤ 100 %
68 % < % ≤ 84 %
52 % < % ≤ 68 %
36 % < % ≤ 52 %
20 % < % ≤ 36 % sangat tinggi
tinggi
sedang
rendah
sangat rendah

3.4.2 Regresi Linier Berganda
Analisis linier berganda digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, yaitu antara produk(X1), pelayanan (X2), dan lokasi (X3) terhadap keputusan untuk membeli (Y). Selain itu juga untuk mengetahui sejauh mana besarnya pengaruh produk, pelayanan, dan lokasi terhadap keputusan untuk membeli. Rumusnya adalah:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3
Dimana :
Y = keputusan membeli
a = bilangan konstanta
b = bilangan koefesien
X1 = produk
X2 = pelayanan
X3 = lokasi
(Algifari,2000:85)
Spesifikasi model tersebut menurut Algifari (2000:83) harus memenuhi beberapa asumsi sebagai berikut: (1) Nonmultikolinieritas, artinya antara variabel independen yang satu dengan independen yang lainnya dalam model regresi tersebut tidak saling berhubungan secara sempurna atau mendekati sempurna; (2) Homokedastisitas, artinya varians variabel adalah konstan; (3) Non otokorelasi, artinya tidak terdapat pengaruh dari variabel dalam model melalui tenggang waktu; (4) Nilai rata-rata kesalahan populasi pada model stokhastiknya sama dengan nol; (5)Variabel dependen adalah nonstokhastik (nilai konsta pada setiap kali percobaan yang dilakukan secara berulang); dan (6) Distribusi kesalahan adalah normal. Untuk membuktikan kebenaran hipotesis harus melewati beberapa uji kebenaran yaitu uji simultan, uji parsial, dan evaluasi ekonometri.
1. Uji Simultan
Uji simultan atau uji F ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor produk, pelayanan, dan lokasi terhadap keputusan untuk membeli di pasar swalayan Alfamidi. Nilai Fhitung dapat ditentukan dengan formula :

Keterangan
R2 = koefisien determinasi
n = banyaknya sampel
m = banyaknya varians
Apabila hasil perhitungan Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak sehingga dapat dikatakan bahwa variabel bebas regresi dapat menerangkan variabel terikat secara serentak. Sebaliknya jika Fhitung < Ftabel maka Ho diterima dengan demikian dapat dikatakan bahwa variabel bebas dari model regresi berganda tidak mampu menjelaskan variabel terikat

2. Uji Parsial
Untuk menguji kemaknaan koefisien regresi parsial digunakan uji t. Nilai t dapat ditentukan dengan formula sebagai berikut :

keterangan :
r = koefisien korelasi
n = banyaknya sampel
(Algifari,2000:41)
Apabila thit > ttab maka Ho ditolak dengan demikian variabel bebas dapat menerangkan variabel terikat yang ada dalam model. Sebaliknya apabila thit < ttab maka Ho diterima, dengan demikian variabel bebas tidak dapat menjelaskan variabel terikat atau dengan kata lain tidak ada pengaruh di antara dua variabel yang diuji. Untuk mencari besarnya r2, di mana r2 adalah satu dikurangi rasio antara besarnya deviasi Y observasi dari garis regresi dengan besar deviasi nilai Y observasi dari rata-ratanya. Atau secara matematis dapat ditulis dengan formula sebagai berikut :

Keterangan :
r2 = besarnya koefisien determinasi
Y = nilai variabel Y
= nilai estimasi Y
= nilai rata-rata varians Y (Algifari,2000:32)

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pemasaran

Keberhasilan suatu perusahaan mencapai tujuan perusahaan sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam memasarkan produknya. Tujuan perusahaan untuk dapat menjamin kelangsungan hidupnya, berkembang dan mampu bersaing, hanya mungkin apabila perusahaan dapat menjual produknya serta mampu mengatasi tantangan dari para pesaing dalam pemasaran. Tujuan tersebut hanya dapat dicapai melalui usaha mempertahankan dan meningkatkan tingkat keuntungan atau laba perusahaan. Usaha ini hanya dapat dilakukan apabila perusahaan dapat mempertahankan dan meningkatkan penjualannya melalui usaha mencari dan membina langganan serta usaha menguasai pasar.

2.1.1 Pengertian Pemasaran

Pemasaran dapat didefinisikan sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan berpindahnya barang dari produsen pertama ke konsumen terakhir (Sriyadi,1991:135). Sedangkan Philip Kotler (2000:11), mendefinisikan pemasaran sebagai suatu proses sosial dan manajerial di mana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan, dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain. Pemasaran merupakan suatu usaha untuk memuaskan kebutuhan pembeli dan penjual (Basu Swasta,1996:6). Dari beberapa definisi para ahli tentang pemasaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pemasaran adalah rangkaian kegiatan

2.1.2 Strategi Pemasaran

Strategi pemasaran merupakan rencana yang menyeluruh, terpadu dan menyatu di bidang pemasaran, yang memberikan panduan tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk dapat tercapainya tujuan pemasaran suatu perusahaan yang meliputi produk, harga, lokasi, promosi, dan pelayanan (Sofjan Assauri,2004:170). Strategi pemasaran terdiri dari unsur-unsur pemasaran yang terpadu (4 P dari marketing mix, yaitu product, price, promotion, place) yang selalu berkembang sejalan dengan gerak perusahaan dan perubahan-perubahan lingkungan pemasarannya serta perubahan perilaku konsumen (Basu Swasta dan T Hani Handoko,2000:119). Jadi dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan serta menggunakan barang dan jasa.

2.2 Keputusan Membeli

Keputusan pembelian konsumen terhadap suatu produk pada dasarnya erat kaitannya dengan perilaku konsumen. Perilaku konsumen merupakan unsur penting dalam kegiatan pemasaran suatu produk yang perlu diketahui oleh perusahaan, karena perusahaan pada dasarnya tidak mengetahui mengenai apa yang ada dalam pikiran seorang konsumen pada waktu sebelum, sedang, dan setelah melakukan pembelian produk tersebut. Adanya kecenderungan pengaruh produk, harga, dan lokasi terhadap keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen tersebut, mengisyaratkan bahwa manajemen perusahaan perlu mempertimbangkan aspek perilaku konsumen, terutama proses pengambilan keputusan pembeliannya. Keputusan pembelian merupakan suatu proses pengambilan keputusan akan pembelian yang mencakup penentuan apa yang akan dibeli atau tidak melakukan pembelian dan keputusan itu diperoleh dari kegiatan-kegiatan sebelumnya (Sofjan Assauri,2004:141). Sedangkan menurut Philip Kotler (2000:251-252), yang dimaksud dengan keputusan pembelian adalah suatu proses penyelesaian masalah yang terdiri dari menganalisa atau pengenalan kebutuhan dan keinginan, pencarian informasi, penilaian sumber-sumber seleksi terhadap alternatif pembelian, keputusan pembelian, dan perilaku setelah pembelian.Dari pengertian keputusan pembelian di atas dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah perilaku pembelian seseorang dalam menentukan suatu pilihan produk untuk mencapai kepuasan sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen yang meliputi pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi terhadap alternatif pembelian, keputusan pembelian, dan perilaku setelah pembelian

2.2.1 Tahap-tahap dalam proses keputusan pembelian

Menurut Basu Swasta dan T Hani Handoko (2000:107-111), proses pengambilan keputusan pembelian suatu produk dapat digambarkan dalam bentuk proses kegiatan pembelian dengan tahapan sebagai berikut:

a) Pengenalan Masalah

Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenal suatu masalah atau kebutuhan. Pengenalan kebutuhan ini ditujukan untuk mengetahui adanya kebutuhan dan keinginan yang belum terpenuhi dan terpuaskan.

b) Pencarian Informasi

Pencarian merupakan aktivitas termotivasi dari pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan dan perolehan informasi dari lingkungan

c) Evaluasi Alternatif

merupakan proses di mana suatu alternatif pilihan disesuaikan dan dipilih untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

d) Keputusan Membeli

merupakan proses dalam pembelian yang nyata. Jadi, setelah tahap-tahap di muka dilakukan, maka konsumen harus mengambil keputusan apakah membeli atau tidak. Konsumen mungkin juga akan membentuk suatu maksud membeli dan cenderung membeli merek yang disukainya. Namun, ada faktor-faktor lain yang ikut menentukan keputusan pembelian, yaitu sikap orang lain dan faktor-faktor situasional yang tidak terduga.

e) Perilaku Setelah Pembelian

Tugas pemasar tidak berakhir saat produk dibeli, melainkan berlanjut hingga periode pasca pembelian. Setelah pembelian produk terjadi, konsumen akan mengalami suatu tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Kepuasan atau ketidakpuasan pembel dengan produk akan mempengaruhi tingkah laku berikutnya. Konsumen yang merasa puas akan memperlihatkan peluang membeli yang lebih tinggi dalam kesempatan berikutnya. Konsumen yang merasa puas akan cenderung mengatakan sesuatu yang serba baik tentang produk yang bersangkutan kepada orang lain.

2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Membeli

Tujuan kegiatan pemasaran adalah mempengaruhi pembeli untuk bersediamembeli barang dan jasa perusahaan pada saat mereka membutuhkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan membeli berbeda-beda untuk masing-masing pembeli di samping produk yang dibeli. Faktor-faktor tersebut adalah: lokasi penjualan yang strategi, pelayanan yang baik, kemampuan tenaga penjual, iklan dan promosi, dan penggolongan barang.

2.3 Variabel

2.3.1 Produk

Setiap perusahaan akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dengan menyediakan produk yang ada. Produk merupakan suatu sifat yang komplek baik dapat diraba maupun tidak dapat diraba, termasuk bungkus, warna, harga, prestise perusahaan dan pengecer, yang diterima oleh pembeli untuk memuaskan keinginan dan kebutuhannya (Basu Swasta,1996:94). Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan atau dikonsumsi yang meliputi mutu/kualitas, pilihan yang ada (options), merek (brand names), pengemasan (packaging), macam (product items), ukuran (sizes), jenis (product lines), dan jaminan (Sofjan Assauri,2004:200). Selain itu, produk dapat pula didefinisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan melalui hasil produksinya. Secara lebih rinci, konsep produk total meliputi barang, kemasan, merek, label, dan jaminan (Fandy Tjiptono,2000:95). Yang dimaksud dengan produk dalam penelitian ini adalah barang yang ditawarkan oleh pasar swalayan kepada konsumen atau calon konsumen yang meliputi kualitas produk, harga, kelengkapan produk, dan jaminan

· Klasifikasi Produk

Di dalam strategi marketing mix, strategi produk merupakan unsur yang paling penting, karena dapat mempengaruhi strategi pemasaran yang lainnya. Tujuan utama strategi produk adalah untuk dapat mencapai sasaran pasar yang dituju dengan meningkatkan kemampuannya untuk mengatasi persaingan. Menurut Sofjan Assauri (2004:202) produk yang dibeli konsumen dapat dibedakan atas tiga tingkatan, yaitu:

1) Produk inti, merupakan inti atau dasar yang sesungguhnya dari produk yang ingin diperoleh oleh seorang pembeliatau konsumen dari produk tersebut.

2) Produk formal, merupakan bentuk, kualitas, dan kemasan yang menyertai produk tersebut.

3) Produk tambahan, merupakan tambahan produk formal dengan berbagai jasa

yang menyertainya.

Di bidang pemasaran, produk dapat diklasifikasikan menurut dasar yang berbeda-beda. Berdasarkan berwujud tidaknya, produk dapat dibedakan menjadi dua kelompok utama yaitu barang dan jasa.

2.3.2 Pelayanan

Pasar swalayan merupakan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan dengan memberikan pelayanan yang sebaik mungkin terhadap apa yang diperlukan pelanggan. Dengan adanya pelayanan yang baik, maka pelanggan akan memperoleh barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya. Pelayanan yang baik sangat penting dalam usaha swalayan sehingga pelanggan akan menyukai pelayanan yang diberikan oleh pasar swalayan tersebut dan pada akhirnya pelanggan akan datang kembali untuk melakukan pembelian ulang.

· Pengertian Pelayanan

Pelayanan adalah suatu upaya yang diberikan oleh perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen untuk mencapai kepuasan (Juhana Wijaya,1999:34). Sedangkan yang dimaksud dengan pelayanan menurut Endar Sugiarto (2002:36), adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan orang lain (konsumen, pelanggan, klien, tamu, dan lain-lain) yang tingkat pemuasannya hanya dapat dirasakan oleh orang yang melayani maupun yang dilayani. Menurut Fandy Tjiptono (2000:58-59), pelayanan adalah suatu sikap atau cara dalam melayani pelanggan supaya pelanggan mendapatkan kepuasan yang meliputi kecepatan, ketepatan, keramahan dan kenyamanan. Pelayanan juga dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk keperluan orang lain (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,1989:504). Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan adalah suatu tindakan yang dilakukan atau dikerjakan oleh pasar swalayan dalam rangka memikat para pembeli agar mereka mau menggunakan produk yang ditawarkan dengan tujuan akhir terjadinya transaksi Unsur-unsur Pelayanan Dalam memasarkan produknya produsen atau penjual selalu berusaha untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan para pelanggan mereka dan berusaha mencari para pelanggan baru. Dalam usaha tersebut tidak terlepas dari adanya pelayanan. Menurut Endar Sugiarto (2002:42) agar loyalitas pelanggan semakin melekat erat dan pelanggan tidak pada pelayanan lain, penyedia jasa perlu menguasai lima unsur CTARN yaitu kecepatan, ketepatan, keamanan, keramahan, dan kenyamanan.

1) Cepat

Yang dimaksud dengan kecepatan di sini adalah adalah waktu yang digunakan dalam melayani konsumen minimal sama dengan batas waktu dalam standar pelayanan yang ditentukan oleh perusahaan. Bila pelanggan menetapkan membeli suatu produk, tidak saja harga yang dinilai dengan uang tetapi juga dilihat dari faktor waktu.

2) Tepat

Kecepatan tanpa ketepatan dalam bekerja tidak menjamin kepuasan konsumen, karena tidak dapat memenuhi keinginan dan harapan konsumen. Oleh karena itu, ketepatan sangat penting dalam pelayanan.

3) Aman

Dalam melayani konsumen, para petugas pelayanan harus memberikan perasaan aman pada konsumen. Tanpa perasaan aman di dalam hatinya niscaya konsumen akan berpikir dua kali jika harus kembali ke tempat tersebut. Rasa aman yang dimaksudkan di sini adalah selain rasa aman fisik adalah rasa aman psikis. Dengan adanya keamanan maka seorang konsumen akan merasa tentram dan mempunyai banyak kesempatan untuk memilih dan memutuskan apa yang diinginkan.

4) Ramah

Dalam dunia pelayanan umumnya masih menggunakan perasaan dan mencampuradukkan antara kepentingan melayani dan perasaan sendiri. Jika penjual tersebut beramah tamah secara professional terhadap pelanggan, niscaya perusahaan dapat lebih meningkatkan hasil penjualan karena kepuasan pelanggan yang akan membuat pelanggan menjadi loyal.

5) Nyaman

Jika rasa nyaman dapat diberikan pada pelanggan, maka pelanggan akan berulang kali menggunakan jasa atau produk yang ditawarkan. Jika pelanggan merasa tenang, tenteram, dalam proses pelayanan tersebut pelanggan akan memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk menjual produk atau jasa yang ditawarkan. Pelanggan juga akan lebih leluasa dalam menentukan pilihan sesuai dengan yang diinginkan. Dengan demikian suatu perusahaan dalam hal ini pasar swalayan agar loyalitas konsumen semakin melekat erat dan konsumen tidak berpaling pada swalayan lain, maka perlu menguasai lima unsur yaitu cepat, tepat, aman, ramah, dan nyaman.

Salah satu faktor yang menentukan tingkat keberhasilan perusahaan adalah kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan. Menurut Parasuraman, Zeithaml dan Berry (1998) keberhasilan perusahaan dalam memberikan pelayanan kepada para pelanggannya meliputi lima dimensi pelayanan yaitu: Tangibles atau bukti fisik, Reliability atau keandalan, Responsiveness atau ketanggapan Assurance atau jaminan dan kepastian, dan Empathy. Berdasarkan teori di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pelayanan adalah suatu tindakan yang dilakukan atau dikerjakan oleh karyawan dalam rangka memikat para pembeli agar mereka mau menggunakan produk yang ditawarkan dengan tujuan akhir terjadinya transaksi. Dengan indikator kecepatan, ketepatan, keamanan, keramahan, dan kenyamanan

2.3.3 Lokasi

Menentukan lokasi tempat untuk setiap bisnis merupakan suatu tugas penting bagi pemasar, karena keputusan yang salah dapat mengakibatkan kegagalan sebelum bisnis dimulai. Memilih lokasi berdagang merupakan keputusan penting untuk bisnis yang harus membujuk pelanggan untuk datang ke tempat bisnis dalam pemenuhan kebutuhannya. Pemilihan lokasi mempunyai fungsi yang strategis karena dapat ikut menentukan tercapainya tujuan badan usaha. Lokasi lebih tegas berarti tempat secara fisik (Sriyadi,1991:60). Lokasi adalah letak atau toko pengecer pada daerah yang strategis sehingga dapat memaksimumkan laba (Basu Swasta dan Irawan,2003:339). Sedangkan menurut Rambat Lupiyoadi (2001:61-62) mendefinisikan lokasi adalah tempat di mana perusahaan harus bermarkas melakukan operasi. Dalam hal ini ada tiga jenis interaksi yang mempengaruhi lokasi, yaitu:

1) Konsumen mendatangi pemberi jasa (perusahaan), apabila keadaannya seperti ini

maka lokasi menjadi sangat penting. Perusahaan sebaiknya memilih tempat dekat

dengan konsumen sehingga mudah dijangkau dengan kata lain harus strategis;

2) Pemberi jasa mendatangi konsumen, dalam hal ini lokasi tidak terlalu penting

tetapi yang harus diperhatikan adalah penyampaian jasa harus tetap berkualitas;

dan

3) Pemberi jasa dan konsumen tidak bertemu langsung, berarti service provider dan konsumen berinteraksi melalui sarana tertentu seperti telepon, komputer, dan

surat.

Pertimbangan-pertimbangan yang cermat dalam menentukan lokasi meliputi faktor-faktor:

1. Akses, misalnya lokasi yang mudah dilalui atau mudah dijangkau sarana transportasi umum;

2. Visibilitas, misalnya lokasi dapat dilihat dengan jelas dari tepi jalan;

3. Tempat parkir yang luas dan aman;

4. Ekspansi, yaitu tersedia tempat yang cukup luas untuk perluasan usaha dikemudian hari;

5. Lingkungan, yaitu daerah sekitar yang mendukung jasa yang ditawarkan (Fandy Tjiptono,2000:41-42).

Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan daerah pembelanjaan adalah luas daerah perdagangan, dapat dicapainya dengan mudah, potensi pertumbuhannya, lokasi toko-toko saingan. Berdasarkan teori di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan lokasi dalam penelitian ini adalah letak yang strategis dari jangkauan konsumen meliputi transportasi, lokasi penjualan, dan jarak antara lokasi toko dengan rumah.

2.4 Penelitian Terdahulu

§ Dalam proses pelaksanaannya, penelitian ini mengacu pada (1)Mujiroh, 2005, Pengaruh Produk, Pelayanan, Dan Lokasi Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Pada Pasar Swalayan Indo Rizky Purbalingga. Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Ekonomi (2)Thomas Stefanus Kaihatu, 2008, Analisa Kesenjangan Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Konsumen Pengunjung Plaza Tunjungan Surabaya, Universitas Kristen Petra Fakultas Ekonomi. (3)Bahktiar,2005, Analisis fenomena yang terjadi pad kualitas swalayan (studi kasus Swalayan di Lhoksumawe), Fakultas Teknik Universitas Malikusalleh Lhoksumawe.

Adapun hubungan ketiga hasil penelitian tersebut dengan pelaksanaan penelitian, antara lain:

Dalam penelitian Mujiroh digunakan Model Regresi Linear Berganda menunjukan bahwa terdapat tiga dimensi yang diharapkan dan dibutuhkan seorang konsumen atas kualitas pelayanan yang diterima, yaitu produk, pelayanan dan lokasi. (Munajiroh,2005:19-24). Hasil penelitiannya menunjukan bahwa terdapat tiga variabel yang mempengaruhi keputusan dalam pembelian konsumen adalah pelayanan. Artinya, jadi pada variabel pelayanan merupakan dimensi yang paling dominan atas keseluruhan persepsi harapan konsumen terhadap kinerja masing-masing perusahaan dalam hal ini kualitas jasa (jasa yang dirasakan). Pengukuran kualitas jasa dalam regresi linear berganda didasarkan pada program SPSS pada komputer yang dirancang untuk menghitung harapan dan persepsi pelanggan, serta gap diantara keduanya dalam dimensi-dimensi utama kualitas jasa. Ketiga pakar ini (Munajiroh,2005:27-28) merangkum sepuluh dimensi tersebut. Kompetensi, kesopanan, kredibilitas, dan keamanan disatukan menjadi jaminan (assurance). Sedangkan akses, komunikasi, dan kemampuan memahami pelanggan dikategorikan sebagai empati (empathy). Dengan demikian, ada lima dimensi utama (sesuai urutan derajat kepentingan relatifnya), yaitu: realiabilitas (realibility), daya tanggap (responsivebess), jaminan (assurance), empati (empathy), dan bukti fisik (tangibles). Pada akhirnya, pendekatan penelitian tersebut menekankan bahwa bila kinerja pada suatu atribut (attribute performance) meningkat lebih besar daripada harapan (expectations) atas atribut yang bersangkutan, maka kepuasan pun akan meningkat. Pada penelitian (Thomas Stefanus Kaihatu, 2008:71) menunjukan bahwa penerapan kualitas dan kepuasan di Plaza Tunjungan Surabaya memiliki kesenjangan antara jasa yang diharapankan dengan jasa yang dirasakan oleh pengunjung plaza. Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi manajemen mengenai kualitas jasa, khususnya untuk dimensi bukti fisik (tangibles), daya tanggap (responsiveness), dan empati (emphaty).

2.5 Hipotesis

Istilah hipotesis berasal dari kata “hipo” yang artinya “di bawah” dan “thesa” yang artinya “kebenaran”. Hipotesis adalah suatu jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai tabulasi melalui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto, 2002:64). Selanjutny hipotesis akan diterima apabila penelitian atau data menggambarkan pernyataan itu, dan hipotesis akan ditolak apabila kenyataan menyangkalnya. Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Ada pengaruh antara produk, harga, dan lokasi terhadap keputusan pembelian konsumen pada pasar swalayan Midi Utama Indonesia (Alfamidi).

Ho = produk, pelayanan, dan lokasi secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen

Ha = produk, pelayanan, dan lokasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Persaingan sengit dalam industri ritel telah melanda negara-negara maju sejak abad yang lalu, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Persaingan terjadi terutama antara usaha ritel tradisional dan ritel modern (supermarket dan hipermarket). Namun, menjelang dekade akhir modern lalu persaingan telah meluas hingga ke negara-negara berkembang, di mana deregulasi sektor usaha ritel yang bertujuan untuk meningkatkan investasi asing langsung (IAL) telah berdampak pada pengembangan jaringan supermarket (Reardon & Hopkins 2006). Supermarket bermerek asing mulai masuk ke Indonesia pada akhir 1990-an semenjak kebijakan investasi asing langsung dalam sektor usaha ritel dibuka pada 1998. Meningkatnya persaingan telah mendorong kemunculan supermarket di kota-kota lebih kecil dalam rangka untuk mencari pelanggan baru dan terjadinya perang harga. Akibatnya, bila supermarket Indonesia hanya melayani masyarakat kelas menengah ke atas pada era 1980-an dan awal 1990-an (CPIS 1994).

Penjamuran supermarket hingga ke kota-kota kecil dan adanya praktik pemangsaan melalui strategi pemangkasan harga memungkinkan konsumen kelas menengah bawah untuk mengakses supermarket. Persoalan ini tentu juga dialami di negara berkembang lainnya (Reardon etal 2003; Collett & Wallace 2006). Kendati persaingan antar supermarket secara teoretis menguntungkan konsumen, dan mungkin perekonomian secara keseluruhan, relatif sedikit yang diketahui mengenai dampaknya pada pasar tradisional. Mengukur dampak amat penting mengingat supermarket saat ini secara langsung bersaing dengan pasar tradisional, tidak hanya melayani segmen pasar tertentu. Strategi pemasaran terdiri dari unsur-unsur pemasaran yang terpadu (4P dari marketing mix, yaitu product, price, promotion, place) yang selalu berkembang sejalan dengan gerak perusahaan dan perubahan-perubahan lingkungan pemasarannya serta perubahan perilaku konsumen (Basu Swasta dan T Hani Handoko,2000:119). Perilaku konsumen yang dimaksudkan di sini tentu saja perilaku konsumen yang nantinya akan mendatangkan pendapatan bagi swalayan tersebut. Pada penelitian ini, dipilih pasar swalayan PT. Midi Utama Indonesia (ALFAMIDI) sebagai obyek penelitian. Sedangkan faktor-faktor yang akan diteliti adalah menekankan pada faktor produk, pelayanan, dan lokasi terhadap keputusan pembelian konsumen. Oleh karena itu, untuk dapat menarik konsumen dan dapat bersaing dengan swalayan lain, maka hal yang dilakukan swalayan adalah memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen sehingga konsumen mencapai kepuasan dengan cara memberikan produk yang berkualitas dan selengkap mungkin, harga yang terajangkau dan lokasi yang memadai sehingga akan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Berdasarkan alasan tersebut di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap konsumen pasar swalayan PT. Midi Utama Indonesia (ALFAMIDI) dengan judul

“ANALISIS KUALITAS PELAYANAN YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN (studi kasus Pasar Swalayan Alfamidi Cabang Bintara)”

1.2 Rumusan Masalahan

Berdasarkan latar belakang diatas, masalah yang dirumuskan dan yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah bagaimana produsen swalayan siap bersaing ketat dengan yang lainnya dan respon masyarakat mengenai perdagangan suatu produk dengan pelayanan yang memuaskan hingga menjadi pelanggan tetap.

1.2.1 Adakah pengaruh dan seberapa besar pengaruh produk, pelayanan, dan lokasi terhadap keputusan pembelian konsumen pada pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara?

1.2.2 Faktor manakah dari produk, pelayanan, dan lokasi yang memberikan pengaruh terbesar terhadap keputusan pembelian konsumen pada pasar walaya Alfamidi Cabang Bintara? Bagaimana tingkatan dan pengaruh produk, pelayanan dan lokasi terhadap keputusan pembeli konsumen?

1.3 Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi dengan penilitian di PT. Midi Utama Indonesia (ALFAMIDI) yang berada di daerah Bintara jaya, Bekasi, dengan 105 responden.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah

1.4.1 Untuk mengetahui adanya pengaruh dan seberapa besar pengaruhdari faktor produk pelayanan, dan lokasi terhadap keputusan pembelian konsumen pada pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara.

1.4.2 Untuk mengetahui faktor manakah diantara faktor produk, pelayanan, dan lokasi yang memberikan pengaruh terbesar terhadap keputusan pembelian konsumen pada pasar swalayan Alfamidi Cabang Bintara.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites